Mangga Irwin Taiwan Jadi Primadona di Eropa, Harganya Bikin Melongo

Harian Berita — Mangga Irwin asal Taiwan berhasil menarik perhatian pasar Eropa. Dalam dua hari setelah dipasarkan pertama kali di Prancis pada Juni 2026, pembeli langsung memborong buah premium ini hingga habis. Penjual menetapkan harga 99,90 euro per kilogram (sekitar Rp2,07 juta), dan minat konsumen tetap sangat tinggi.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pasar Eropa bersedia membayar mahal untuk produk berkualitas tinggi. Orang‑orang menilai cita rasa mangga ini berbeda dari mangga pada umumnya, sehingga beberapa restoran mewah ikut memburunya.

Keunggulan Mangga Irwin Jadi Daya Tarik Konsumen

Dengan ciri khasnya, Mangga Irwin mudah dikenali. Kulitnya berwarna merah keunguan dengan tampilan yang menarik. Daging buahnya bertekstur lembut, hampir tanpa serat, serta memiliki rasa manis yang seimbang dengan aroma yang kuat.

Pada awal Juli, lebih dari empat ton Mangga Irwin berhasil terjual di Prancis. Konsumen memborong semua pasokan meski harga premium.

Wakil Ketua Eksekutif Natural House Group, Carrie Wong, mengatakan banyak restoran kelas atas dan distributor kembali mengajukan permintaan. Namun, pihaknya belum dapat memenuhi pesanan tambahan karena musim panen telah berakhir. Para pembeli harus menunggu hingga musim berikutnya untuk mendapatkan pasokan baru.

Berhasil Masuk Pasar Eropa yang Ketat

Keberhasilan Mangga Irwin menembus pasar Prancis menjadi pencapaian penting bagi Taiwan. Pasalnya, negara-negara Eropa menerapkan standar yang sangat ketat terhadap produk pertanian, mulai dari proses karantina hingga batas residu pestisida.

Keberhasilan ini juga membantu Taiwan memperluas pasar ekspor di luar China. Sebelumnya, China menjadi salah satu tujuan utama ekspor mangga Taiwan. Namun, pada 2023 pemerintah China menghentikan impor mangga Taiwan dengan alasan biosekuriti.

Setelah kebijakan tersebut berlaku, Taiwan mulai mengubah strategi ekspor. Pemerintah dan pelaku usaha memilih fokus memasok mangga ke pasar premium seperti Jepang, Korea Selatan, dan kini Prancis.

Hakim Kabupaten Pingtung, Chou Chun Mi, menyebut tingginya permintaan dari Korea Selatan dan Prancis membuktikan bahwa mangga Taiwan mampu bersaing di pasar internasional tanpa bergantung pada China.

Peneliti mengembangkan Mangga Irwin pertama kali di Florida, Amerika Serikat, pada 1939.

Kemudian pada 1950-an bibit tersebut dibawa ke Taiwan dan berkembang menjadi salah satu varietas mangga unggulan.

Saat ini Taiwan memproduksi sekitar 100 juta kilogram mangga setiap tahun. Para petani mangga menjual mayoritas hasil panen mereka di pasar domestik, dan sekitar satu persen mengekspor hasil panen mereka.

Pedagang pasar lokal menetapkan harga Mangga Irwin antara NT$100 hingga NT$300, Rp55 ribu hingga Rp167 ribu, lebih murah daripada harga jualnya di Eropa.

Pihak terkait berharap keberhasilan menembus pasar premium Eropa memperkuat posisi Mangga Irwin sebagai komoditas hortikultura unggulan Taiwan dan ekspor bertambah.